Panbers – Vol 1: Kami Tjinta Perdamaian

Panbers – Vol 1: Kami Tjinta Perdamaian

Saya jadi ingat cerita teman saya yang sempat bercakap dengan salah seorang anggota rombongan the (International) Noise Conspiracy ketika mereka bertandang ke Jakarta beberapa tahun lalu. Orang Swedia tersebut mengaku menggilai Panbers. Teman saya itu sempat bingung. Kenapa Panbers? “Gereja Tua”? “Achir Tjinta”? Kenapa lagu-lagu kampungan itu bisa digilai oleh orang sekeren si bule? Dia lalu melanjutkan dengan berkata, “Djakarta City Sound! Amazing!”.

Benny Pandjaitan, yang kini lebih dikenal sebagai salah satu patron lagu cengeng neo-Butet, ternyata pernah muda dan salah jalan. Sebuah syarat mutlak bila anda ingin membuat rock & roll tulen. Bersama dengan saudara-saudara sekandungnya, Hans, Doan dan Asido, diusunglah panji Panbers (Pandjaitan Bersaudara). Di awal karirnya mereka merupakan salah satu band anak muda Indonesia yang terkena euforia ‘kebebasan’ Orde Baru. Tidak ada lagi larangan untuk memainkan musik yang dikatakan oleh Bung Karno sebagai ‘ngak ngik ngok’. Mereka dengan total menghidupi tawaran yang diberikan oleh pahlawan-pahlawan mereka, Beatles, Stones dan Led Zep. Setengah materi dari album pertama mereka ini berisikan perayaan akan kekuatan rock & roll, keasikan berbuat ‘salah’ dan menjadi ‘buta’, hingga keangkuhan khas anak muda. Simak penggalan lirik lagu “Haai”:

I like Beatles’ songs/I love Rolling Stones/I love Led Zeppelin/But, it’s the Panbers I (really) love/I am in the high/I am in the blind…

Lagu-lagu seperti “Haai”, “Bye Bye” dan “Djakarta City Sound” kini menjadi bongkahan-bongkahan emas baru bagi penikmat obscurities garage rock dan psikedelik dunia dari akhir ’60-an dan awal ’70-an. Sebuah akumulasi dari tren Beatles-Stones- soul/r&b-Led Zep-Purple dengan pendekatan yang tidak dimiliki band manapun. “Haai” dan “Bye Bye” seakan menawarkan terapi kejut bertegangan tinggi bagi penggemar Jane’s Addiction. Dengan seksi ritem yang memainkan soul/funk cadas, vokal ber-echo ekstrim dengan pilihan nada yang amat amat Perry Farrell, serta kesadaran psikedelia nan kasual sempat membuat saya berpraduga gila, apakah anak-anak nakal dari L.A. tersebut benar-benar mendengarkan Panbers? Ataukah Panbers yang bisa membaca masa depan?

Riff gitar fuzz primitif “Let Us Dance Together” terdengar amatir dan penuh omong kosong, berbaris rapi dengan aksi soul garasi Nuggets seperti the Music Explosion hingga ke the Seeds. Momen kolase suara riuh lalu lintas Jakarta di “Djakarta City Sound” merupakan salah satu yang terbaik di eranya. Hadirnya pop bunga ’60-an pada “Sendja Jang Indah” dan Beatles brewok di “Colour of Your Heart” – dengan progresi akor yang mengingatkan saya akan “While My Guitar Gently Weeps” – seakan menyelamatkan album ini dari serbuan lagu cengeng Melayu yang menyita setengah isi album.

Panbers. Kami Tjinta Perdamaian

Panbers. Kami Tjinta Perdamaian

Seperti layaknya band-band rock di Indonesia saat itu, Panbers harus melewati ‘pelonco’ kreatif cukong industri rekaman. Berlawanan dengan materi untuk penampilan live, mereka diharuskan pula merekam lagu-lagu cengeng untuk mengikuti selera pasar. Memang tidak ada salahnya karena mereka dapat terkenal melalui the ultimate hit cengeng “Achir Tjinta”. Tetapi – terlepas dari beberapa momen penuh sihir di album-album era Mesra serta Hard Beat – setelah itu mereka tidak pernah kembali melihat ke belakang dan berterima kasih kepada rock & roll.

Rekaman piringan hitam dua album pertama Panbers, serta album Hard Beat, kini diburu oleh para kolektor internasional. Beberapa label reissue Barat juga berlomba untuk merilisnya.

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Pin It on Pinterest