Bob Tutupoly

Bob Tutupoly

Bobby Willem Tutupoly ditemui Irama Nusantara pada tanggal 27 Juni 2013 di kediamannya di bilangan Pondok Labu, Jakarta Selatan.

 

Sebenarnya om Bob lahir dan tumbuh besar di mana?

Saya lahir di Kota Pahlawan, Surabaya. Kalau anda menanyakan kapan saya mulai menyanyi sejak taman kanak-kanak pun sudah. Waktu itu menyanyi di RRI Yogyakarta, lagunya “Sarinande”. Saat itu untuk menurunkan mikrofon tidak seperti sekarang jadi saya dinaikkan ke atas meja (tertawa). Dan pada saat itu kejadian tersebut merupakan sebuah kabar baik, karena kala itu kami di Yogyakarta di bawah pemerintahan RI sementara kakek-nenek saya berada di Surabaya yang masih di bawah pemerintahan Belanda. Oma sedang senang-senangnya mendengarkan radio dan kebetulan mendengar saya menyanyi. Beliau menangis terharu karena dari situ jadi tahu kalau keadaan saya baik-baik saja. Dengan menyanyi saya percaya saya membawa kabar baik. Kejadian itu sekitar tahun 1945 ke atas.

 

Lalu bagaimana ceritanya sampai pada akhirnya om Bob menjadi penyanyi profesional?

Dari Yogyakarta kita sekeluarga lalu kembali ke Surabaya. Di sana sejak SMP saya sudah mendirikan sebuah band di sekolah dan saya sebagai penyanyinya. Kami bermain di acara-acara internal sekolahan. Bahkan pada saat itu kami sudah mendapatkan uang saku hasil bermain musik.

 

Membawakan lagu-lagu seperti apa saat itu?

Dulu seorang kakak kelas bisa bermain terompet lalu kami membawakan “Cherry Pink and Apple Blossom White”. Sejak dahulu saya suka sekali Nat King Cole. Saya suka karakter penyanyi bergaya crooner, dan pada saat itu semuanya bergaya seperti itu.

 

Kapan bertemu dengan Didi Pattirane hingga akhirnya masuk dapur rekaman untuk pertama kali?

Saya dan teman-teman meneruskan band hingga SMA. Saat itulah saya bertemu dengan Didi Pattirane. Dia adalah seorang virtuoso musik asal Surabaya, bisa memainkan segala macam instrumen. Pada saat itu dia mendengarkan saya bernyanyi lalu dia menawarkan untuk ikut dengan bandnya. Saat itu tahun 1957, saya masih SMA kelas 1. Kita membuat lagu-lagu Maluku bersama Didi dengan band yang dinamakan Kwartet Jazz Modern, diambil dari nama band Amerika Modern Jazz Quartet (tersenyum). Kami bermain di RRI Surabaya dan lagu-lagu yang dimainkan sebenarnya sudah mengena pada jazz. Apalagi kalau mendengarkan rekaman lagu-lagu Maluku ini dalam choir dengan pembagian suaranya yang sudah seperti The Four Freshmen atau The Hi-Lo’s. Saya terus bersama Didi yang saat itu akhirnya membentuk sebuah grup bernama Bhineka Ria guna mengikuti festival band di Surabaya. Kita pun menang di festival itu. Lalu kita ikut lagi kejuaraan berskala Jawa Timur, lalu menang lagi. Berikutnya kami dikirim ke Jakarta, festival di gedung Ikada dan menang sebagai juara pilihan juri. Sementara pemenang pilihan penonton jatuh pada band yang beranggotakan anak-anak Batak di Jakarta, Riama. Itu sekitar tahun 1958.  Bhineka Ria ini adalah pintu dari semuanya. Bahkan kita sampai diundang ke Ambon oleh Kolonel Pieters dan ternyata antusiasme para penonton di sana sangat besar, kita seperti superstar (tersenyum).

 

Kembali ke rekaman Lokananta ini, apakah om masih ingat bagaimana proses Didi Pattirane mengajak om dalam sesi tersebut? Apakah direkam di kota Solo, tempat Lokananta?

Tidak, ini direkam di studio RRI Surabaya, baru hasilnya dikirim ke Solo. Sepertinya banyak rekaman Lokananta yang tidak direkam langsung di Solo.

 

Di album terdapat beberapa lagu tradisional Maluku dan juga lagu karangan Didi serta Bianca Pattirane. Siapa yang melakukan pemilihan lagu?

Didi menentukan lagunya dan siapa yang cocok membawakan lagu tersebut.

 

Siapa itu Bianca Pattirane?

Bianca itu anak dari kakaknya Didi. Dia itu keponakannya Didi.

 

Salah satu lagu di album merupakan karangan J. F. R. Pattirane. Siapa dia?

Itu John, kakak dari Didi yang tinggal di Bandung. Dia itu yang membuat Aneka Nada dan juga yang membesarkan nama Bimbo. Keluarga Pattirane ini memang luar biasa musikal.

 

Siapa saja musisi yang terlibat dalam proses rekaman album?

Didi bermain gitar, piano dan vibrafon. Max Lie bermain piano. Willy Pattirane pada bas. Marius Diazpada drums. Lody Item, ayah dari Jopie Item, bermain gitar. Ada pula Yusmin pada saksofon. Choir diisi oleh para keluarga seperti Max Pattirane dan juga ayahnya Berhitu.

 

Didi hijrah ke Amerika itu sejak kapan?

Sepertinya tahun 1960, ketika Didi mewakili nama Indonesia untuk show di sana bersama musisi jazz lainnya seperti Jack Lesmana, Bill Saragih dan Benny Mustafa. Didi tak pernah kembali lagi, dia kabur dan tinggal di sana.

 

Kami sempat melihat di youtube sebuah film Amerika dari tahun 1969 berjudul Stiletto di mana Didi terlihat tampil bermain gitar di salah satu adegan. Apakah benar itu Didi?

Benar itu dia.

 

Kembali ke cerita om Bob setelah rekaman Lokananta ini lalu bagaimana?

Saya pindah ke Bandung setelah Didi pergi ke Amerika. Papa mengirim saya ke Bandung karena ada kakak saya di sana dengan harapan saya bisa lebih fokus untuk kuliah dari pada bernyanyi.  Tapi malah lebih hancur lagi karena saya tergabung dengan band jazz  bernama Crescendo dan bermain di hotel-hotel. Karena sejak dahulu, saat masih bersama Didi,  saya juga sering bernyanyi untuk band lain, seperti bersama Bubi Chen serta Chen Brothers, dan juga bertemu dengan Bill Saragih. Saat itu Bill memiliki band bernama Jazz Riders dan ternyata ia harus hijrah ke Bangkok dan meminta saya untuk bergabung ke band tersebut. Tahun 1963, atau 1964, saya ke Jakarta dan memulai bermain bersama Jazz Riders untuk Hotel Indonesia.

 

Di pertengahan tahun ‘60-an lalu om Bob menelurkan beberapa seri album bersama Remaco termasuk rekaman Dedicated to Dr Martin Luther King bersama The Echos. Bagaimana ceritanya?

The Echos, ya kita asal saja memberi nama band itu (tertawa) dan kalau tidak salah album ini digarap bersama Ireng Maulana. Jadi begini, di saat saya aktif di Hotel Indonesia saya bertemu banyak musisi. Hotel Indonesia satu-satunya tempat di mana band-band mancanegara perform dan juga tempat hang out-nya para musisi. Di sana saya sebagai MC sekaligus penyanyi, bertemulah dengan Enteng Tanamal dan Panca Nada. Dia lah yang  mengajak saya rekaman mengingat dia adalah recording band buat Remaco  Waktu itu Pattie Bersaudara sedang merekam lagu-lagu Natal, saya lantas diminta oleh Enteng untuk menyanyikan dua lagu. Setelah itulah Eugene (Timothy, red.), pemilik Remaco, menahan saya untuk tetap bermain bersama Enteng.  Dimulailah merekam lagu “Lidah Tak Bertulang” dan juga “Tiada Maaf” dan masih banyak lagi. Mulailah saya bergabung di Remaco.

 

Kembali ke rilisan rekaman Dedicated to Dr Martin Luther King bersama The Echos ini. Menurut kami ini album yang cukup spesial, dengan pilihan lagu-lagu kover yang menantang. Ada lagu “Stone Free” dari Jimi Hendrix Experience, juga “Wasted Words” dari the Motions, band Robbie van Leeuwen sebelum Shocking Blue, lalu “L-O-V-E” milik Jackie Edwards. Apa benar ini dirilis kira-kira pada tahun 1968? Siapa yang memilih lagunya dan bagaimana ceritanya?

Benar album ini dirilis di sekitaran tahun 1968. Saya termasuk penyanyi Indonesia yang dipilih untuk menyanyikan banyak sekali lagu-lagu Barat. Seingat saya di album ini saya bermain bersama Ireng Maulana tapi pemilihan lagunya dilakukan oleh Enteng Tanamal.

 

Lalu siapa orang yang bertanggung jawab atas aransemen lagu-lagu disini?

Antara dua orang tadi, Ireng dan Enteng. Tetapi seingat saya sepertinya Ireng.

 

Jadi sebelum om Bob hijrah ke Amerika, di sepanjang dekade ’60-an di Indonesia om Bob bersama Remaco?

Ya. Menurut saya di kala itu perusahaan rekaman yang paling kuat ya Remaco.

 

Boleh cerita sedikit tentang rekaman om Bob bersama The Pros di Singapura?

Ya, itu direkam di Singapura pada tahun 1967. Ceritanya ada seseorang yang punya uang banyak. Dulu saya bermain bersama band asal Filipina, kalo nggak salah namanya Orchid Lantern. Band itu memiliki brass section yang bagus. Saat itu saya dan The Pros bermain di satu tempat di Singapura. The Pros bermain di lantai satu, Rasa Sayange, dan saya bermain di lantai dua, klab yang lebih besar, Tropicana. Kadang-kadang saya turun untuk lihat mereka. Seseorang yang punya uang tersebut senang kepada saya dan juga The Pros, lalu menyarankan kita untuk bergabung dan merekam sesuatu. Akhirnya kita merekam album tersebut. Yang bermain gitar itu Enteng Tanamal,  belum Ronny Makasutji. Pada drums itu Fuad Hasan, Dimas Wahab di bas, juga ada Pomo dan Broery.